TUGAS BULAN PERTAMA
1.
PENALARAN
ILMIAH
2.
BERPIKIR
INDUKTIF
3.
BERPIKIR
DEDUKTIF
NAMA : RAMADHAN AHMAD
NPM : 27213235
KELAS : 3EB07
DAFTAR ISI
A.
PENALARAN
ILMIAH…………………………………………………..(3)
1.
Pengertian Penalaran……………………………………….............…….…..(3)
2.
Unsur Penalaran Penalaran Ilmiah……………...……………..…....................(3)
3.
Hubungan Penalaran dengan Penulisan Ilmiah…………..…..............................(4)
B. BERPIKIR DEDUKTIF……………………………………………...……(5)
1.
Macam-macam Penalaran Deduktif…………………………………..………(6)
a.
Silogisme……………………………………………..………………………(6)
b.
Entimen………………………………..……………………………………..(6)
C. BERPIKIR INDUKTIF……………………………………………………(6)
1.
Generalisasi…………………………..……………………………………….(7)
a.
Generalisasi Sempurna……………………………………………...…………(7)
b.
Generalisasi Tidak Sempurna…………………………………….…………….(7)
2.
Analogi……………………………………..…………………………………(7)
3.
Kausal…………………………………………….…………………………..(7)
D. DAFTAR PUSTAKA…………………………………...……………………(9)
A. PENALARAN
ILMIAH
1. Pengertian
Penalaran
Penalaran
adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta
yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan.
Penalaran mempunyai beberapa pengertian lainnya, yaitu :
Penalaran mempunyai beberapa pengertian lainnya, yaitu :
a.
proses berpikir
logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai
dengan simpulan,
b. menghubung-hubungkan fakta atau data
sampai dengan suatu simpulan,
c. proses menganalisis suatu topik sehingga
menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru,
d. mengkaji, membahas, atau
menganalisis dengan menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan,
e.
pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan
suatu simpulan yang berupa pengetahuan baru.
Data
yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan harus
berbentuk kalimat pernyataan atau yang disebut dengan proposisi. Proposisi
adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subyek dan predikat yang membentuk
kalimat.
Ciri-ciri
penalaran sebagai berikut :
- Logis, suatu penalaran harus memenuhi unsur logis, artinya pemikiran yang ditimbang secara objektif dan didasarkan pada data yang valid.
- Analitis, berarti bahwa kegiatan penalaran tidak terlepas dari daya imajinatif seseorang dalam merangkai, menyusun, atau menghubungkan petunjuk-petunjuk akal pikirannya ke dalam suatu pola tertentu.
- Rasional, artinya adalah apa yang sedang dinalar merupakan suatu fakta atau kenyataan yang memang dapat dipikirkan secara mendalam
2. Unsur
Penalaran Penulisan Ilmiah
Menurut Widjono,
(2007 : 210), unsur penalaran penulisan ilmiah adalah sebagai berikut:
- Topik yaitu ide sentral dalam bidang kajian tertentu yang spesfik dan berisi sekurang-kurangnya dua variabel.
- Dasar pemikiran, pendapat, atau fakta dirumuskan dalam bentuk proposisi yaitu kalimat pernyataan yang dapat dibuktikan kebenaran dan kesalahannya.
- Proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subyek dan predikat yang membentuk kalimat.
- Proses berpikir ilmiah yaitu kegiatan yang dilakukan secara sadar, teliti, dan terarah menuju suatu kesimpulan.
- Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan argumen (alasan), argumentasi (pembuktian), fenomena, dan justifikasi (pembenaran).
- Sistematika yaitu seperangkat proses atau bagian-bagian atau unsur-unsur proses berpikir ke dalam suatu kesatuan.
- Permasalahan yaitu pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalam karangan.
- Variabel yaitu unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang akan dianalisis.
- Analisis (penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mencari hubungan (korelasi), membandingkan, dan lain-lain.
- Pembuktian (argumentasi) yaitu proses pembenaran bahwa proposisi itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya. Selain itu, pembuktian didukung pula dengan data yang mencukupi, fakta, contoh, dan hasil analisis yang akurat.
- Hasil yaitu akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis induktif atau deduktif.
- Kesimpulan yaitu hasil pembahasan, dapat berupa implikasi atau inferensi.
3.
Hubungan
Penalaran dengan Penulisan Karya Ilmiah
Karya tulis
ilmiah adalah tulisan
yang didasari oleh pengamatan atau penelitian dalam bidang tertentu, yang
kemudian disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang
memnggunakan tata kalimat dan bahasa yang santun dan isinya dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
Syarat penulisan
sebuah karya tulis ilmiah terbagi tiga yaitu :
- Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah.
- Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah.
- Sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.
Dari pengertian
tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses
melahirkan sebuah karya ilmiah. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang
mengesampingkan unsur emosi, sentimen pribadi atau kelompok. Oleh karena itu,
dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara
berpikir/penalaran induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.
Metode berpikir
keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:
- Argumentasi teoritik yang benar, valid dan relevan.
- Dukungan fakta empirik.
- Analisis kajian yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.
B.
Berpikir Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction
yang berarti penarikan kesimpulan dari
keadaan-keadaan yang umum,
menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di
tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik
kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.
Metode berpikir deduktif adalah metode
berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Dalam
penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut
silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
1.
Dasar pemikiran utama (premis mayor)
2.
Dasar pemikiran kedua (premis minor)
3.
Kesimpulan
Contoh:
·
Premis
mayor : Semua
siswa SMP kelas 7 wajib mengikuti kegiatan OSPEK.
·
Premis
minor : Adi
adalah siswa kelas 7 SMP
·
Kesimpulan : Adi wajib mengikuti
kegiatan OSPEK
Contoh di atas merupakan bentuk penalaran
deduktif. proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap. Pertama,
generalisasi sebagai pangkal tolak. Kedua, penerapan atau perincian
generalisasi melalui kasus tertentu. Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku
bagi kasus khusus itu. Deduksi menggunakan silogisme dan entimem.
Dapat disimpulkan secara lebih
spesifik bahwa argumen berpikir deduktif dapat dibuktikan kebenarannya.
Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif bergantung pada dua hal, yaitu
kesahihan bentuk argumen berdasarkan prinsip dan hukumnya; dan kebenaran isi premisnya
berdasarkan realitas. Sebuah argumen deduktif tetap dapat dikatakan benar
berdasarkan bentuknya, meskipun isinya tidak sesuai dengan realitas yang ada atau
isi argumen deduktif benar menurut realitas meskipun secara bentuk ia tidak
benar.
1.
Macam-macam Penalaran Deduktif
a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses
penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi
(pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa
silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1
kesimpulan.
b. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi
secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau
tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
C.
Berpikir Induktif
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang
bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum.
Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat
umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif
dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup
yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan
dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang
disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum
diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
(www.id.wikipedia.com)
Jalan induksi mengambil jalan tengah, yakni di
antara jalan yang memeriksa cuma satu bukti saja dan jalan yang menghitung
lebih dari satu, tetapi boleh dihitung semuanya satu persatu. Induksi
mengandaikan, bahwa karena beberapa (tiada semuanya) di antara bukti yang
diperiksanya itu benar, maka sekalian bukti lain yang sekawan, sekelas dengan
dia benar pula. Ada 3
macam penalaran Induktif :
1.
Generalisasi
Merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data
yang ada. Dibagi menjadi 2 :
a.
Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif
Fakta
yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan. Contoh :
- Sensus Penduduk.
- Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, baja memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jadi, jika dipanaskan semua logam akan
memuai.
b.
Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif
Fakta
yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Contoh :
·
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka
adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.
2.
Analogi
Merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan kesamaan data atau
fakta. Pada analogi biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki
karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.
Tujuan dari analogi :
Tujuan dari analogi :
- Meramalkan kesamaan.
- Mengelompokkan klasifikasi.
- Menyingkapkan kekeliruan.
Contoh :
Ronaldo
adalah pesepak bola.
Ronaldo
berbakat bermain bola.
Ronaldo
adalah pemain real madrid.
3.
Kausal
Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab-akibat. Terdiri dari 3 pola, yaitu :
Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab-akibat. Terdiri dari 3 pola, yaitu :
a. Sebab ke akibat = Dari
peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kesimpulan sebagai efek.
Contoh : Karena terjatuh di
tangga, Kibum harus beristirahat selama 6 bulan.
b. Akibat ke sebab = Dari
peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kejadian yang dianggap penyebabnya.
Contoh : Jari kelingking Leeteuk
patah karena memukul papan itu.
c. Akibat ke akibat = Dari
satu akibat ke akibat lainnya tanpa menyebutkan penyebabnya.
DAFTAR PUSTAKA
(http://dwikartikasari-18211665.blogspot.co.id/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-kaitannya.html)
(filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri
Pustaka Sinar Harapan. 2005)
(Arifin, Zaenal
E., Tasai, Amran S. 2008. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi,
Jakarta : Akademika Pressindo.)
(Hs, Widjono.
2007. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi. Jakarta : Grasindo.)
